Menu

Mode Gelap
Sukseskan Muktamar XX, Kader IMM Sumbar Siap Gebrak Palembang Audiensi HW ke UM Sumbar: Sinergi Musywil dan Milad ke-105 Aisyiyah Rekomendasikan Perbaikan Pemilu, Simak di Sini Tim MenaraMu Laporkan Pengembangan Media di Pleno PWM Pilkada Halal dan Bermartabat

Artikel · 6 Mar 2026 06:48 WIB ·

Mewaspadai Istidraj, Jebakan Kenikmatan di Balik Kesuksesan Duniawi


 Wakil Ketua PWM Sumbar Ki Jal Atri Tanjung Perbesar

Wakil Ketua PWM Sumbar Ki Jal Atri Tanjung

Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.

​Di era modern yang serba cepat ini, tolak ukur kebahagiaan sering kali dikerdilkan menjadi sekadar pencapaian materi. Kekayaan yang melimpah, karier yang melesat, hingga kekuasaan yang berada di genggaman kerap dianggap sebagai tanda mutlak kesuksesan dan kasih sayang Tuhan.

Namun, dalam kacamata spiritual Islam, tidak semua kenikmatan duniawi bermakna anugerah. Ada sebuah fase kritis yang sering kali luput dari kesadaran manusia, yakni Istidraj.

​Secara harfiah maupun maknawi, Istidraj adalah jebakan kenikmatan. Ini adalah situasi di mana Allah Swt. terus-menerus memberikan limpahan dunia kepada seseorang yang justru hidupnya bergelimang kemaksiatan dan dimurkai-Nya. Tujuannya adalah agar mereka semakin lalai, terbuai, dan pada akhirnya binasa.

​Tragisnya, mereka yang terkena Istidraj adalah orang-orang yang sudah berulang kali mendapatkan peringatan, namun memilih untuk acuh dan mengeraskan hatinya. Ketika saatnya tiba, kesenangan itu akan dicabut secara tiba-tiba, meninggalkan mereka dalam keadaan termangu, terpaku, dan tenggelam dalam penyesalan yang tiada akhir.

​Wujud Jebakan Kenikmatan

​Istidraj sering kali datang tanpa disadari karena ia menyamar sebagai hal-hal yang diidam-idamkan banyak orang. Bentuk-bentuk Istidraj di sekitar kita dapat berupa:

  • Kekayaan yang melimpah ruah tanpa henti, meski cara mendapatkannya mungkin jauh dari nilai-nilai kejujuran.
  • Kekuasaan yang besar dan terus menguat, yang justru membuat seseorang semakin sewenang-wenang.
  • Kesuksesan yang terus-menerus dalam setiap urusan duniawi, seolah tidak ada satu pun rintangan yang berarti.
  • Kenikmatan hidup yang berlebihan, yang membuat seseorang lupa akan batas-batas kepatutan dan moral.
Baca Juga:  Mengembangkan Lembaga Pendidikan yang Moderat dan Toleran

​Mengapa Istidraj Sangat Berbahaya?

​Bahaya terbesar dari Istidraj adalah ilusi rasa aman. Berbagai kemudahan yang didapat membuat seseorang merasa tidak perlu bertaubat, karena ia berasumsi Tuhan tetap “menyayanginya” terlepas dari dosa-dosa yang dilakukan.

​Lebih jauh, Istidraj membawa dampak destruktif bagi jiwa manusia, di antaranya:

  1. Menumbuhkan Kesombongan: Merasa sukses karena jerih payahnya sendiri dan perlahan merasa tidak lagi membutuhkan campur tangan Allah.
  2. Menjauhkan Diri dari Sang Pencipta: Fokus hidup sepenuhnya teralihkan dari kehidupan akhirat ke hiruk-pikuk dunia semata.
  3. Kebutaan Spiritual: Membuat manusia tidak sadar bahwa ia sebenarnya sedang berjalan menuju jurang kebinasaannya sendiri.
  4. Menjadi Azab Ganda: Bukan hanya ancaman azab di akhirat, tetapi juga kehampaan jiwa dan kehancuran tak terduga di dunia.
Baca Juga:  Haji dan Qurban, Pokoknya Tauhid

​Peringatan Tegas dalam Al-Qur’an

​Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat terang benderang mengenai fenomena ini. Dalam Surah Al-An’am ayat 44, Allah Swt. berfirman:

​فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوۡۤا أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةً فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun bukakan bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami timpakan atas mereka azab dengan tiba-tiba, maka mereka pun menjadi putus asa.” (QS. Al-An’am: 44).

 

​Ayat ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang tengah berada di puncak kejayaan agar tidak cepat berpuas diri, melainkan mempertanyakan: apakah ini murni berkah, ataukah Istidraj?

​Langkah Preventif Membentengi Diri

​Agar terhindar dari jebakan mematikan ini, diperlukan jangkar kesadaran spiritual yang kuat. Ada beberapa upaya nyata yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri dari Istidraj:

  • Menghidupkan Ruang Introspeksi: Rutin mengevaluasi diri (muhasabah) dan berani mengakui kesalahan serta dosa yang telah dilakukan.
  • Membumikan Hati: Menghindari kesombongan dengan menyadari bahwa di atas langit masih ada langit, dan membuang jauh-jauh perasaan diri lebih baik dari orang lain.
  • Konsisten Mengingat Tuhan: Selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan, memperbanyak zikir, dan terus memohon perlindungan melalui doa.
  • Orientasi Akhirat: Menyeimbangkan kehidupan dengan meningkatkan kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sementara akhirat adalah tujuan akhir.
  • Aksi Nyata Beramal: Mewujudkan keimanan melalui amal saleh, berbagi kepada sesama, dan berbuat baik tanpa pamrih.
Baca Juga:  Muhammadiyah Mendidik Kader dengan Serius dan Berjenjang

​Pada akhirnya, kesuksesan sejati bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa dekat pencapaian itu membawa kita kepada Sang Pencipta. Dengan terus berbenah dan meningkatkan ketakwaan, kita dapat memastikan bahwa kenikmatan yang kita raih adalah anugerah yang membawa berkah, bukan Istidraj yang membawa petaka.

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Buya ZIS Tutup Baitul Arqam PDM-PDA Pabasko

10 Desember 2023 - 18:06 WIB

Krisis Iklim: Perspektif Mindset dan Peran Agama dalam Solusinya

17 November 2023 - 16:13 WIB

Muhammadiyah, Transformasi Politik dan Keterlibatan Menjelang Pemilihan Umum

16 November 2023 - 17:02 WIB

Muhammadiyah Mendidik Kader dengan Serius dan Berjenjang

11 November 2023 - 11:43 WIB

Pura Pura Muhammadiyah

8 Oktober 2023 - 15:18 WIB

Muhammadiyah Dari Masa ke Masa Di Teluk Bayur dan Kampung Air Manis

25 September 2023 - 10:08 WIB

Trending di Artikel